Cara Mengatasi Rem yang Harus Dikocok

Mengatasi Rem yang Harus Dikocok

Sungguh tak nyaman bila hendak menghentikan laju mobil harus dengan menginjak pedal rem berulang-ulang. Lebih dari sekadar masalah kenyamanan, rem yang harus dikocok tentu sangat membahayakan keselamatan pengendara dan pengguna jalan. Mestinya, sekali ditekan, rem menggigit dan laju kendaraan dapat terkontrol

Biasanya kasus rem kocok diawali dengan rem yang tidak menggigit meskipun pedal sudah diinjak dalam-dalam. Apabila keadaan ini dibiarkan tanpa perbaikan, lama kelamaan rem serasa hilang sehingga injakan harus semakin dalam lagi dan perlu dikocok-kocok.

 

Sebetulnya, rem yang harus dikocok ini timbul karena adanya udara palsu dalam sistem rem. Udara inilah yang membuat tekanan dari pedal rem tidak bisa langsung diteruskan ke masing-masing silinder roda. Dengan menekan dan melepas berulang-ulang, udara di dalam sistem rem akan terkompresi. Barulah kemudian tekanan pedal rem bisa sampai ke silinder roda.

 

Ruang-ruang pada sistem rem seharusnya memang tidak berisi udara, melainkan minyak rem. Nah, mengapa udara bisa berada di sana?

Timbulnya udara palsu dalam sistem rem disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

  • Panas pada minyak rem yang disebabkan oleh tekanan di pedal rem. Suhu yang naik ini akan mengurangi viskositas (kekentalan) minyak rem. Semakin rendah viskositas minyak rem, cenderung akan cepat panas/mendidih. Kalau sudah mendidih, akan muncul uap. Salah satu unsur di dalam uap adalah udara. Udara ini kemudian terjebak di dalam ruangan sistem rem. Lama lama akan berkumpul dan semakin banyak seiring dengan usia pemakaian minyak rem.
  • Kebocoran di sistem rem. Kebocoran bisa terjadi di master rem, pipa-pipa, atau di wheel cylinder. Kebocoran ini bisa terjadi karena kerusakan pada komponen-komponen rem. Misalnya, seal master cylinder dan seal wheelcylinder.
  • Habisnya minyak rem pada recervoir tank. Kalau habis, pada saat kita injak dan lepas pedal rem, maka media penghantar yang terhisap ke ruangan master rem adalah udara. Udara ini kemudian bisa menjalar ke seluruh ruangan pada sistem rem.

 

Dari beberapa faktor di atas, Hal-hal yang perlu diperhatikan agar udara palsu tidak masuk ke sistem rem adalah:

  • Periksa permukaan minyak rem di recervoir tank setiap hari.Lakukanlah penggantian minyak rem secara periodik, setiap 20.000 km.
  • Saat mengganti minyak rem, gunakanlah minyak rem yang sejenis, atau yang direkomendasikan pabrikan. Bila lain jenis, dikhawatirkan terdapat perbedaan karakter yang dapat mempengaruhi daya tahan komponen sistem rem, terutama seal-seal, baik di master maupun wheel cylinder.
  • Stel dan bersihkan rem secara berkala, setiap 10.000 km.

Bila Rem Berdenyit

Menjelang musim kemarau, maka hujan pun turun tak menentu. Hasilnya mobil dapat dalam sekejab kuyup dan selekas itu pula kering. Dan rem pun kadang berdenyit kala diaktifkan pada dua kondisi tersebut.

Kebanyakan konsumen sangat merisaukan munculnya bunyi tersebut. Namun sebetulnya tak semua bunyi itu berarti telah terjadi kerusakan rem mobil bersangkutan.
Bunyi rem bisa muncul karena jenis kanvasnya.  Betapapun demikian terdapat bunyi yang menandakan rem mobil bersangkutan perlu mendapat perawatan atau bahkan penggantian. Berikut sejumlah penyebab bunyi rem yang dapat digunakan sebagai patokan. Juga perlunya diketahui untung ruginya bila Anda menggunakan produk asli atau tiruan yang memang umumnya dijual dengan harga lebih murah.

Bunyi yang terbilang normal, dinyatakan berdenyit normal bila bunyi hanya muncul kala rem diinjak secara perlahan.  Namun justru tak mengeluarkan bunyi apapun bila rem ditekan mendadak.

Bunyi yang terbilang normal ini muncul, umumnya karena pad rem yang kini banyak diperdagangkan adalah jenis semi-metalic. Dan biasanya ini digunakan untuk mobil berpenggerak roda depan (front wheel drive) dan minivan.

Bunyi yang mencurigakan, berdenyitnya bunyi rem yang terjadi pada setiap kali komponen ini diaktifkan. Umumnya bunyi tersebut disertai getaran pada pedal bila pengemudi menginjak rem. Bila ini yang terjadi disarankan segera membawanya ke bengkel. Kerusakan yang menimbulkan gejala seperti ini bisa terjadi pada bagian kanvas, rotor maupun kaliper. Biasanya penggantian komponen harus disertai servis rem pada bagian lainnya.

Ganti dengan komponen original.  Disarankan untuk mengganti kanvas dan pad rem asli untuk mobil Anda. Kanvas rem dan break pad yang berkualitas unggul justru bukan berbahan amat keras. Namun juga tak terlalu lunak. Komponen ini sangaja dibuat agak lunak supaya proses pengereman berjalan maksimal dengan kanvas atau pad yang dirancang lebih cepat habis.

Pada produk yang berkualitas kurang baik, terdiri dari bahan yang amat keras, sehingga akan menjadikan tromol (drum) atau piringan (dish) rem mudah tergores. Kerusakan demikian akan membuat kerja rangkaian rem tak maksimal.
Hindari mereparasi tromol dan piringan.  Kebanyakan bengkel menyarankan untuk kembali membubut (meratakan) tromol atau piringan rem mobil jika terjadi cekungan atau goresan. Secara teori ini bisa saja berjalan seakan normal. Apalagi bila pembubutan hanya merupakan upaya sedikit meratakan cekungan atau goresan pada komponen ini.  Namun sebetulnya kegiatan ini menjadikan tromol maupun piringan rem mudah rapuh usai menjalani pembubutan itu. Sebab proses perataan tersebut memerlukan pula pemanasan tinggi yang berakibat komponen justru menjadi rapuh.

Hasil pembubutan atau perataan permukaan yang terlalu banyak memakan ‘daging’ komponen tersebut bisa pula membuat tromol atau piringan pecah saat diaktifkan pada kesempatan berikutnya.

Kegiatan ini hanya direkomendasikan untuk keadaan darurat. Segera gantikan tromol atau piringan rem dengan produk baru pada kesempatan selanjutnya.

Baru Ganti Kampas Rem, Malah Gak Pakem?

Beberapa rekan mengalami hal yang sama, baru saja mengganti keempat kampas rem mobil (depan belakang & kiri kanan) tetapi setelah itu merasakan bahwa kemampuan rem kendaraannya jadi tidak pakem.

Tidak kita sadari bahwa permukaan disc/drum pada sistem rem kita jika diperbesar tidaklah rata.  Sementara permukaan brake Pad yang baru adalah rata.  Hal ini mengakibatkan bidang yang bersentuhan untuk menimbulkan friksi menjadi kecil, sehingga kemampuan pengereman menjadi berkurang.

Untuk itu, seperti pada buku panduan yang disertakan ketika kita baru membeli mobil, bahwa sistem rem perlu proses ‘Running In’ sejauh kurang lebih 300 kilometer perjalanan agar permukaan disc dan permukaan brake pad menjadi “sambung-manis”.

Pada saat masa ‘Running In’ tidak diperkenankan untuk melakukan pengereman yang mendadak, karena akan merusak proses Running In itu sendiri karena dipaksakan.

Jadi kalau mengganti kampas rem sebaiknya tidak bersamaan keempat-empatnya… tetapi misalnya saat ini mengganti rem roda depan (kiri-kanan), kemudian setelah berjalan 300km dilanjut dengan rem roda belakang (kiri-kanan).

Bergetar Saat Nge-rem Meski Sudah di-Balancing

Penyebab Getaran Steering Wheel

Balancing dan spooring tentu populer di kalangan pengendara dan pecinta otomotif. Efek tindakan ini memang dapat meningkatkan kenyamanan berkendara karena mampu meredam getaran yang dihasilkan akibat putaran roda. Tapi, mengapa setelah dilakukan balancing dan spooring getaran tetap terasa? Terutama saat roda di-rem.

Bergetarnya steering wheel dalam kasus seperti di atas kemungkinan besar justru terjadi karena sistem rem. Bukan tidak berfungsinya balancing. Masalah sistem rem diantaranya, piringan (tromol) rem yang tidak rata. Yang paling sering adalah piringan rem ban depan (kanan-kiri).

Untuk mengatasinya, akan lebih baik jika piringan rem tersebut diganti dengan yang baru. Memang, ada sebagian orang yang berusaha mengatasinya dengan membubut komponen tersebut.

Efek balancing dan spooring memang untuk menghilangkan getaran yang timbul pada saat kendaraan melaju. Semakin tinggi kecepatan, getaran yang diproduksi akan semakin kuat. Namun, sumber getaran bisa juga berasal dari sistem rem.

Selain kondisi piringan rem, bearing (laher) roda depan yang mengalami keausan juga bisa menyebabkan getaran di steer. Tetapi getaran ini tidak hanya muncul pada saat di rem saja. Getaran terasa pada saat kecepatan tinggi dan permukaan jalan yang tidak rata. Untuk mengatasi masalah seperti ini, solusinya adalah dengan mengganti komponen tersebut.

Disarankan, balancing dan spooring dilakukan setiap 10.000 km. Untuk sistem rem sendiri, lakukan pemeriksaan setiap 10.000 km juga. Dan apabila terjadi penggantian kanvas rem, gunakanlah kanvas rem yang orisinil. Sementara laher, lakukan penggantian grease (gemuk) setiap 20.000 km.

 

Menghentikan Kendaraan Saat Rem Tak Berfungsi

Ketika menyadari kendaraan mengalami kerusakan fungsi rem, biasanya pengendara sangat terkejut dan panik. Apalagi jika pada saat itu kendaraan sedang melaju di jalan raya. Kepanikan inilah yang umumnya membuat pengendalian laju kendaraan menjadi tidak terkontrol dan sangat potensial menimbulkan kecelakaan lalulintas.

Ada dua kemungkinan kerusakan fungsi rem yang umumnya baru kita ketahui saat kendaraan sedang melaju: rem blong dan rem macet. Keduanya sama-sama berbahaya. Bahkan rem yang macet (menjepit terus) dapat mempengaruhi arah steer (kemudi). Rem yang macet dapat mengakibatkan kemudi tertarik ke kiri atau ke kanan karena roda terkunci.

Bila mendapati kerusakan rem dalam kondisi kendaraan sedang melaju, yang pertama harus dilakukan adalah menghentikan laju kendaraan. Masalahnya, adakah cara lain yang dapat kita gunakan untuk menghentikan kendaraan tanpa menginjak pedal rem?

Jawabannya ada. Untuk kondisi seperti ini kita dapat menghentikan laju kendaraan dengan menggunakan rem tangan. Tentu saja rem tangan ini baru dapat kita operasikan saat kecepatan kendaraan sudah sangat rendah (di bawah 10 km/jam).

Untuk ini, ada beberapa step yang harus kita lakukan sebelum mengoperasikan rem tangan.

  • Turunkan kecepatan kendaraan dengan memindahkan gigi perseneling yang lebih rendah secara bertahap (5-4,4-3,3-2,2-1).
  • Apabila pada bahu jalan terdapat rumput, gunakan bahu jalan yang berumput tersebut untuk semakin memperlambat laju kendaraan.
  • Setelah kecepatan kendaraan sudah relatif pelan, maka lakukan pengoperasian rem tangan untuk menghentikan laju kendaraan.

Setelah kendaraan berhenti total, segera lakukan pemeriksaan komponen rem. Bila ada kerusakan, segeralah lakukan perbaikan. Menghentikan kendaraan tanpa fungsi rem seperti di atas ini relatif lebih aman ketimbang panik yang berpotensi kendaraan melaju tanpa kontrol.

Sumber : saft7.com

38 comments on “Cara Mengatasi Rem yang Harus Dikocok

  1. Ichwan r on said:

    Mobil saya Panther ’97. Selama 1 bulan nggak keluar garasi, nggak apa2, cuma memang saya nggak pengin keluar rumah pakai mobil, pakai motor saja cukup. Tadi sore ( 15.00 WIB 29 Jan 2014)
    saya panasi beberapa lama, lalu rencananya mau keluar garasi. Tapi, masuk gigi 1 kemudian saya injak pedal gas, eh… nggak mau jalan. Usut punya usut, ternyata rem terkunci. Pedal rem saya injak nggak bisa menekan, sangat keras sekali. Rem tangan ditarik nggak mau, sangat keras ditarik, bahkan nggak bisa ditarik. Ada apa ya mas?. Haruskah saya panggil mekanik ke rumah. Terima kasih atas jawabannya.

    • buka ban bagian belakang, terus lepas drum brakenya, lalu ketok kampas rem belakang, kejadian ini karena kampas rem nempel atau nyangkut akibat handbrake terlalu lama bekerja, saran saya kalau lama mobil tidak digunakan jgn di handbrake tapi ganjal saja dengan batu atau masukin gigi 1 (walaupun ada resiko lupa).

  2. Tanya om. Hijet 1000 saya kalau diinjak remnya keras kenapa ya? Mater rem zebra apa bisa dipasang di hijet saya?trim

  3. om,mo tanya.tromol,udah di ganti,master rem juga udah diganti,booster udah di ganti,kampas rem juga udah di ganti, saat pertama hidup mesin dan jalan rem normal, setelah sering ngerem rem pasti tidak normal/alias ngerem rendiri sehingga jalan mobil lambat. kalau mobil di henti kan dan slang ke booster di cabut n berbunyi terus di pasang kembali rem normal. tapi kalau jalan lagi kejadiaannya seperti di atas. mohon infu apa masalahnya ?

  4. slamet on said:

    tanya gan…..
    harga master rem cary ekstra brapa ya gan

  5. Reza on said:

    Om, ane pake timor, udh ganti master rem krn wkt itu blong, baru 3 bulan minyak rem udh abis, dan setelah itu tiap bulan minyak rem pasti abis jdnya dalem banget smpe mentok baru bisa ngerem.. Kira2 knp ya om?? Thanks.

  6. Berarti tiap merk dan jenis mobil beda-beda ya mas?

  7. totok on said:

    Om admin… mau nanya neh
    .. aku punya timor dohc… handbrake aku agak kurang pakem…
    Waktu aku berhenti… aku handbrake. Tp pas aku jalan… aku lupa masi aku handbrake…
    Jadi ban belakang jadi bunyi kayak ada gesekan… cara mengatasinya bgmn ya om?

  8. LEMAN on said:

    misi oom mau tanya nih…..
    timi saya th 97 tromol rem nya udah aus, untuk harga tromol rem nya berapa ya? dan untuk daerah cikarang di mana sya bisa dapat? mohon infonya ……….

    • admin on said:

      bisa cari di ramanda motor deket carefour cikarang, atau di toko part umum juga ada, harga mulai 100.000 sepasang belakang

  9. hendra on said:

    Om tanya nich ..zebra s89 sdh ganti pipa2 rem master..tapi setelah itu kalau direm ..roda belok kiri dan ngocok dua kali…mhn penjelasan terimakasih

  10. Kaspul on said:

    Om..corolla ke -20 saya remnya mesti dikocok dulu baru pakem,,cek oli rem & minyaknya gak berkurang om..mau saya ganti kebooster aja kira2 brp duit om?? Terus booster rem apa yg pas om?mohon pencerahan

  11. maaf gangu gan, mw nanya sy puxa kijang lgx thun 2001, pedal remx dalem banget lo ngerem g kyak kijang kapsul sbelum2x, trus minyak remx di tank kyakx g kurang2, mhon solusi n pjelasanx gan.

  12. AdrianSoma on said:

    Misi mau tanyak om , ini mobil saya honda estilo udah mangkrak 9bulan baru jalan lagi , kendala mobil jalan tpi kayak remnya nge rem sendiri , dan sempat tercium bau gosong , 2 rem depan udh di ganti piston rem dan karet2nya , bisa di bilang semua sistem rem baru termasuk bostel dan rumahnya , kira2 knapa ya kok sampek ada bau gosong?

    • mungkin masih ngejepit om, ganti minyak remnya dengan yang dot4 terus cek juga posisi si piston apakah mau main atau tidak. kalkau masih gak mau main ya ganti selangnya

  13. muhajjir on said:

    om mau nanya mobil saya timor shoc waktu itu rem nya blooong dah sy ganti master rem atas sekarang remnya malah kagetan/ga ada tegangan pada pedal rem,tapi remnya sangat pakem.itu kenapa ya om.takut klo lg dijalan ditabrak dr belakang.makasih

  14. mau nanya nih bos, mobil saya timor dohc, saat turun dari tanjakan yg curam Batu Malang – Pacet Mojokerto remnya sempat blong… dan SAMPAI sekarang tidak saya ganti normal2 aja…tapi agak keras kalau diinjak pedalnya. apa yang harus saya lakukan ? andai ganti seal rem , adakah sealnya yg dijual eceran atau satu set dengan piston ? trima kasih

  15. sy punya kijang rover 93 kenapa ketika saya bw remnya kadang2 harus di kocok terlebih dahulu y om baru ngerem, mohon pencerahannya dan solusinya…

  16. Gan boil ane carry extra punya masalah pedal remnya dalem, salainya itu pedal rem klo di injek agak mentrul dan rem belakangnya gak pakem blas. mohon pencerahanya gan trims

  17. suwono atmojo on said:

    om, admin mo sering ni…mobil saya timor dohc 97,tiap minggu minyak remnya selalu hbs kenapa ya om…pdhal kmren ak ..dah ganti silinder hyd nya,…ap master remnya yg ber masalah om..kmrn ak liat liat di masternya ad rembesan….ap perlu di ganti satu set om….kira 2 harga master rem brp ya om…?

  18. adhe cipaganti on said:

    Om,mau tanya mobil saya Mits Lancer 85..klo ngerem pakem harus di kocok dulu,pengaruh apa y om soalnya minyak rem nya normal normal saja..mohon infonya,makaseh om..

  19. Om permisi mau nanya, saya pake toyota corona thn 74 dan permasalahannya pd rem minyak rem cepat habis biasanya klo udh dipake ngerem ada suara2 “ngik” di ban kanan pas jalan, solusinya gmn ya om? Klo sumpama ganti master rem itu master rem nya apa ya yg kira2 sama dgn master rem corona thn 74?
    Tolong pencerahannya ya om, tks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>